Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Sugeng Rawuh
image

BAMBANG SUDARMOYO

Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru
Arsip

PARIBASAN

 

Aja dumeh, aja gumunan, aja kagetan

Dumeh : mentang-mentang; gumun : heran. “Jangan mentang-mentang, (tetapi juga) jangan selalu heran, dan jangan selalu terkejut”. Sebaiknya, orang jangan sombong, tetapi juga jangan mudah disombongi (dipameri) orang lain, sehingga heran dan terkejut.


Ajining diri saka kedaling lathi, ajining salira saka busana

Kedaling berasal dari kata medal (keluar); lathi : bibir. “Nilai seseorang tergantung pada apa yang diucapkan, sedang nilai fisiknya tergantung pada pakaian yang dikenakan”. Orang yang selalu berfikir, berbicara dan bersikap tentang kebenaran, diucapkan dengan halus, dan sopan, akan dihargai orang lain. Pakaian di sini bukan hanya pakaian yang dikenakan, tetapi juga pekerjaan, jabatan, pangkat, gelar, dan sebagainay, Orang yang berpakaian, bekerja dengaa sopan, wajar, sesuai hukum masyarakat dan agama, juga akan dihargai. 


Amburu uceng kelangan deleg

Uceng: 1) ikan sungai yang kecil-kecil, 2) bunga melinjo. Deleg : ikan gabus besar. “Memburu uceng, kehilangan deleg”. Artinya, karena terlalu bernafsu untuk mendapatkan yang kecil dan tidak berharga, malah kehilangan yang berharga.


Anak polah, bapa kepradah

Polah : tingkah laku, pradah : senang memberi; kepradah : kewajiban, tanggungjawab. “Anak bertingkah laku, bapak (yang) wajib bertanggung jawab”. Ini menggambarkan anak yang tidak bertanggung jawab, semua perbuatannya menjadi beban  bapaknya.

 

Anutupi babahan hawa sanga

Anutupi : menutupi, babah, mbabah : menggali lubang di bawah dinding rumah, untuk masuk rumah itu (mencuri). Hawa : nafsu, sanga : sembilan. “Menutupi sembilan lubang nafsu”. Ini merupakan filsafat Jawa, yang mengajarkan untuk menahan hawa nafsu yang menggoda lewat sembilan lubang: mata (2), hidung (2), telinga (2), mulut (1), alat kelamin (1), dan dubur (1).  


Balung gajah

“Tulang gajah”. Menggambarkan orang yang amat berpengaruh, kaya terpelajar.


Batok bolu isi madu

Bolu merupakan kerata basa bo (-longan) (te-)lu (tiga lubang), yang ada pada tempurung kelapa, tempat di mana nantinya benih kelapa tumbuh. “Tempurung kelapa berlubang tiga, yang berisi madu”. Ini menunjukkan tempurung kelapa biasa, tetapi berisi madu. Bolu juga berarti tampak biasa saja. Paribasan ini menggambarkan orang yang sederhana, tetapi mulya hatinya.

 

Becik ketitik ala ketara

Becik : baik, kebaikan; titik : tanda, sifat; ketitik : ditandai, sifat yang diingat orang; ala: jelek; ketara : jelas. “Sifat baik akan dicatat, sifat jelek akan tampak”. Setiap kebaikan akan selalu dingat, dan setiap kejelekan seseorang,  pasti akan ketahuan.  


Bobot, bibit, bebet

Bobot : kepandaian; bibit : asal usul keturunan (genetik), dalam arti keturunan bangsawan atau tidak; bebet : kekayaan. Dulu merupakan paribasan untuk memilih calon pasangan atau menantu. Saya kira, paribasan itu harus diubah maknanya; bobot : ilmu yang dikuasai, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat; bibit : lingkungan (keluarga, sekolah/ pendidikan, masyarakat) tempat seseorang dibesarkan dan dididik; bebet : kekayaan lahir batin; mungkin miskin harta tetapi kaya ilmu, atau miskin ilmu tetapi kaya harta.


Den ajembar, den momot lawan den mengku, den kaya segara

Den : yang; jembar : luas; momot : muat ; lawan : 1) musuh; 2) dan; mengku : memangku, memikul; segara : laut. “Yang luas, yang (mampu) memuat dan yang (mampu) memangku,  seperti lautan”. Filsafat orang Jawa, agar setiap orang mempunyai wawasan luas, agar menguasai banyak ilmu dan ngelmu, serta mampu memangku tugas seberat apapun.


Demit ora ndulit, setan ora doyan

Dulit, ndulit : menyentuh. “Demit tidak menyentuh, setan tidak suka”. Menggambarkan orang yang selalu sukses, dan selamat.


Didodog lawange, dikinang jambe suruhe

Dodog, ndodog : mengetuk; lawang : pintu; dikinang : dikunyah; jambe suruh : pinang sirih. “Pintunya diketuk, sirih pinangnya dikunyah”. Suatu istilah yang menunjukkan seorang wanita yang sedang dilamar (dipinang).  


Diunggah-unggahi

Unggah : naik; diunggah-unggahi berarti berusaha dinaiki. Paribasan ini menunjukkan  seorang pria yang dilamar wanita.


Emban cinde emban siladan

Emban : 1) wanita pengasuh anak; 2) selendang untuk menggendong; cinde : selendang dengan warna dominan merah, tepi putih; siladan : bilah kecil-kecil dari bambu (dulu untuk membuat ‘kreneng’). “Menggendong (dengan) cinde , menggendong (dengan)  siladan ”. Ini menggambarkan orang yang tidak adil, ada yang digendong dengan selendang, dan ada yang digendong dengan siladan .


Esuk dele sore tempe

Dele : kedelai. “Pagi (masih) kedelai, sore (menjadi) tempe”. Melukiskan orang yang selalu berubah-ubah fikirannya; pagi berkata ‘A’, sore berkata ‘B’. 


Gemah ripah loh jinawi

Gemah : makmur; ripah : berlimpah, kaya; loh : subur; jinawi :  serba murah, terjangkau. “Makmur, berlimpah, subur, semua barang terjangkau harganya”. Menggambarkan wilayah atau negara yang subur makmur.


Gething nyanding

Gething : benci; sanding : bersanding. “(Semula) benci, (sekarang) bersanding”. Melukiskan orang yang semula membenci, sekarang menjadi akrab, bahkan menikah.


Giri lusi janma tan kena ingina

Giri : gunung; lusi : cacing; janma : manusia; tan : tidak boleh; ing ina : dihina. Sulit diterjemahkan, kira-kira; “Cacing gunung, manusia tidak boleh menghina”. Hanya cacing, tetapi mampu naik dan hidup di gunung. Meskipun tampak bodoh, tidak bermartabat, tetapi jangan menghina sesama manusia, siapa tahu dia mempunyai kelebihan.


Guci lenga, kayu gapuk

Merupakan kerata basa dari “LuGU suCI , mentheLENG lungA , KA ku ngguYU leGA dipukPUK ”. Nasihat pada penganten, agar selalu jujur dan suci (lugu suci ), tidak saling melotot  (mentheleng ) atau marah, lalu pergi atau minggat  (lunga ), kapan saja dan di mana saja selalu ceria dan tertawa (kaku ngguyu ), dan kalau berlebihan (ada kelebihan uang) baiknya ditabung (lega dipukpuk ).

 

Ibu bumi, bapa akasa

“Ibu Bumi, dan Bapak Angkasa”. Pandangan orang Jawa tentang ekosistem. Bumi merupakan tempat menanam, dan angkasa mencurahkan air dan sinar matahari. Melukiskan kerjasama yang baik, saling memberi dan menerima, saling menjaga.


Ilang-ilangan endog siji

Ilang; hilang, endog : telur; siji : satu. “Kehilangan satu butir telur (tidak masalah)”. Orang tua yang tidak mengakui anaknya yang durhaka.

 

Jajah desa milang kori

Jajah : pergi ke mana-mana; milang : 1) mengajar; 2) menghitung; kori : pintu rumah. “Pergi ke banyak desa, menghitung pintu rumah”. Menunjukkan orang yang sudah bepergian ke mana-mana.


Jangka jangkah

Jangka: tujuan, maksud; jangkah : langkah. “Melangkah (mencapai) tujuan”. Maksudnya bekerja sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan.


Janma mara janma mati, sato mara sato mati

Janma : manusia; mara : datang; sato : hewan. “Orang yang datang akan mati, hewan yang datang akan mati”. Menggambarkan tempat atau situasi yang berbahaya.


Jembar segarane

Jembar : luas; segara : laut. “Lautan (maaf) yang luas”. Mudah memaafkan.


Jer basuki mawa beya

Basuki : tenteram, bahagia; mawa : dengan; beya : beaya, tenaga. “Untuk mendapat kebahagiaan diperlukan usaha”. Di mana pun dan kapan pun, untuk mendapat kekayaan, dan kebahagiaan pasti diperlukan ikhtiar.


Jiniwit katut

Jiwit : cubit; jiniwit : dicubit; katut : ikut. “Dicubit, ikut (merasa cubitannya)”. Kerukunan dan persahabatan lahir batin, sehingga jika yang satu sedih, yang lain ikut merasa juga.


Kaca benggala

Cermin yang besar. Merupakan paribasan untuk menggambarkan, hendaknya setiap orang selalu mawas diri, selalu menjadikan pengalaman diri dan pengalaman orang lain sebagai pelajaran.


Kacang mangsa ninggal lanjaran

Ninggal : dari kata tinggal , mendapat awalan n- , menjadi ninggal , berarti meninggalkan. Lanjaran : bambu yang ditanam sebagai tempat merambat tanaman kacang. “Kacang tidak meninggalkan lanjaran”. Artinya, perilaku, sifat, kepribadian anak mirip dengan perilaku, sifat, dan kepribadian orang tuanya; secara luas berarti perilaku seseorang dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungannya.


Kaduk wani, kurang deduga

Kaduk :terlanjur; wani : berani; duga, deduga : 1) menduga; 2) tenggang rasa. “Terlanjur berani, (tetapi) kurang tenggang rasa”. Orang yang emosional, berani, tetapi tidak sopan. 


Kalah cacak, menang cacak

Cacak : coba, dicoba. “Kalah dicoba, menang (juga) dicoba”. Semua hal harus dicoba dulu, benar atau salah, kalah atau menang, urusan belakang.


Kalah wirang, menang ora kondang

Wirang : malu, kondang : terkenal. “Jika kalah akan malu, (jika) menang tidak tersohor”. Paribasan ini dipakai untuk menahan marah seseorang.


Kebo nusu gudel

Kebo : kerbau; nusu : menyusu;  gude l: anak kerbau. “Kerbau menyusu (pada) anaknya”. Menunjukkan, bahwa orang tua meminta (uang, harta, ilmu) pada anaknya, atau guru yang juga belajar dari (bekas) muridnya.

 

Kegeden empyak kurang cagak

Kegeden dari kata gede (besar), mendapat awalan ke- dan akhiran –an , artinya terlalu besar. Empyak : atap, cagak : tiang untuk menyangga atap. “Atap terlalu besar, dan tiangnya kurang”. Ini mengkiaskan orang yang penghasilannya lebih sedikt daripada pengeluarannya.


Kencana katon wingka

Kencana : emas; katon : tampak; wingka : pecahan genting (kreweng ). “Emas tapi tampak seperti pecahan genting”. Orang yang mulia, bermartabat, tetapi tampak sederhana. Bisa juga menggambarkan orang yang dulu dicintai, tetapi sekarang tidak lagi. 


Kendit mimang, kadang dewa

Kendit : ikat pinggang dari kain; mimang : akar beringin; kadang : saudara. “Berikat pinggang akar beringin, bersaudara dengan dewa”. Artinya, orang yang kuat dan selalu selamat.


Kepaten obor

Kepaten dari kata pati (mati), mendapat awalan ke- dan akhiran –n . “Obornya mati”. Menunjukkan orang yang kehilangan silsilah keluarganya; tidak mengenal keluarga besarnya.


Ketiban daru

Tiba : jatuh; ketiban : kejatuhan; daru : wahyu. “Kejatuhan wahyu”. Orang yang menerima rejeki luar biasa (harta, benda, pangkat) yang sama sekali tidak diduga. 


Kleyang kabur kanginan

Kleyang : melayang; kabur : terbang; kanginan (dari kata angin): tertiup angin. “Melayang terbang tertiup angin”. Maksudnya, orang yang ‘terbawa nasib’, berpindah-pindah tempat, berpindah-pindah pekerjaan, perganti-ganti tugas dan jabatan.


Kombak kombuling kahanan, mobah mungkreting donya

Kombak dari kata ombak , mendapat ater-ater ko- , menjadi kombak , artinya terkena ombak. Kombul : bergerak; kahanan: keadaan. Mobah dari kata obah (gerak), menjadi mobah (tergerak); mungkret : mengkerut; donya : dunia. “Terkena gerak ombak keadaan, berubah (karena) mengkerutnya dunia”. Maknanya, terkena akibat karena keadaan yang selalu berubah. 


Kridaning ati, ora bisa mbedah kuthaning pesti

Krida : bekerja; ati : hati; mbedah : mengubah; kutha : benteng; pesti: takdir. “Bekerja (sekeras apapun), tidak dapat menjebol (mengubah) benteng takdir”. Artinya, ada takdir yang sudah digariskan, manusia tidak dapat mengubahnya. Saya berpendapat, memang ada takdir, tetapi tidak seorangpun tahu. Dalam berikhtiar, kita harus berusaha sekuat tenaga, seakan-akan tidak ada batasnya.    


Kucem-kucem diraupi

Ada yang mengucapkan ‘Kecing-kecing diraupi ’. Kucem, kecing : bau pesing; raup : cuci muka; diraupi : muka (wajah) dibasuh air. “Bau pesing, (cukup) cuci muka”. Jika tubuh berbau pesing, sebaiknya mandi, agar bersih dan wangi. Paribasan ini menunjukkan, bahwa ada orang yang berusaha menutupi kelemahannya, atau menutupi suatu kejelekan, hanya sekedar agar tidak tampak jelek.Jadi, paribasan yang berbunyi ‘Kucing-kucing diraupi ’, tidak benar.


Lahang karoban manis

Lahang : air nira (sadapan air bunga aren, kelapa); rob : banjir; karoban : dibanjiri. “Air nira dibanjiri rasa manis”. Melukiskan orang yang selain kaya, juga pandai, cantik atau ganteng, bernasib baik.

 

Madal pasilan

Padal : tolak, geser;  madal : bergeser; pasilan , dari kata sila (posisi duduk bersila); pasilan : tempat duduk bersila, tempat pertemuan. ”Bergeser dari tempat bersila”. Maknanya, orang yang meninggalkan tempat duduk, atau meninggalkan pokok pembicaraan, atau pindah dari suatu  tugas atau pekerjaan.

 

Melik nggendong lali

Melik : 1) ingin, keinginan 2) memiliki; nggendong : menggendong; lali : lupa. “Keinginan (berlebihan, nafsu), membawa (sifat) lupa”. Menjukkan, bahwa nafsu yang berlebihan (nafsu kaya, berpangkat, punya jabatan), menyebabkan orang lupa diri. 


Mendem jero mikul duwur

Mendem :1) mabuk, 2) memendam; jero : dalam; mikul : memikul; duwur : tinggi. “Memendam (yang) dalam, memikul (mengangkat yang) tinggi”. Melupakan atau menyimpan rahasia, aib, kejelekan orang tua, keluarga, masyarakat, dan mengharumkan nama baik, jasa, orang tua, keluarga dan masyarakat.  


Moh lima

Moh (emoh ): tidak mau. “Tidak mau 5 M”. Ajaran untuk tidak melakukan 1) maling (mencuri, korupsi); 2) madon (wadon: perempuan; madon: main perempuan, selingkuh, 3) madat (candu, narkoba), 4) minum (alkohol, yang memabukkan), 5) main (berjudi).


Mulang wuruk

Wulang : ajaran, petunjuk; mendapat ater-ater m- , menjadi mulang : mengajar. Wuruk : ajar, diwuruki; diajari; di sini wuruk berarti diwuruki atau diajari. “Mengajar dan diajar”.


Mulang sarak

Sarak : ilmu syariat (hukum) agama.  Mulang sarak : mengajar ilmu hukum agama.

 

Mulat sarira hangrasa wani

Mulat : 1) berkobar-kobar (api); 2) melihat, mengawasi. Arti kedua ini berasal dari kata ulat (wajah, muka), yang mendapat awalan m- . Sarira : badan; hangrasa : merasa; wani : berani. “Melihat diri sendiri harus dengan rasa berani”, atau “Berani melihat diri sendiri”, atau mawas diri, introspeksi.

 

Negara mawa tata, desa mawa cara

Negara: negara; mawa : dengan. “Negara mempunyai aturan, desa mempunyai cara”. Artinya, setiap tempat, setiap kelompok orang, selalu mempunyai tata cara sendiri-sendiri.


Ngebun-ebun enjing ajejawah sonten

Ebun : embun; enjing : pagi; ajejawah : hujan; sonten: sore. Ukara (kalimat) ini merupakan wangsalan . Dalam Basa Jawa , embun pagi disebut awun-awun , hujan (gerimis) sore disebut rerabi . Arti wangsalan ini adalah “Kula nyuwun rabi”, atau ‘Saya minta menikah’.


Nunggak semi

Tunggak : bekas pohon yang ditebang; nunggak : menjadi tungga k; semi : tumbuh, bersemi. Wajah, perilaku, atau sifat seseorang yang ternyata mirip dengan wajah, perilaku, atau sifat orang tuanya.


Nyolong pethek

Colong : curi; nyolong : mencuri; pethek : tebakan. Menggambarkan keadaan yang betul-betul di luar dugaan.


Rawe-rawe rantas, malang-malang putung

Rawe : tanaman merambat, yang daunnya menyebabkan gatal. Rantas : aus, hampir putus; malang : melintang; putung : patah. “Rawe (juga hampir) putus, (apapun yang) melintang (akan) patah. Menunjukkan orang yang benar-benar bersemangat untuk mencapai tujuan.


Rumangsa bisa, bisa rumangsa

Rumangsa : merasa; bisa: dapat, mampu. “Merasa mampu, mampu merasa”. Sebaiknya, setiap orang bukan hanya merasa mampu, tetapi hendaknya juga mampu memakai perasaan.  


Sedumuk batuk, sanyari bumi

Dumuk : sentuh; ndumuk : menyentuh; sedumuk : dekat sekali, dapat disentuh; nyari : jari; sanyari : selebar jari. “(Dekat sekali) dapat disentuh jari, bumi (tanah hanya) selebar jari”. Melambangkan, meskipun dekat, sedikit, sederhana, tetapi jika menyangkut kehormatan dan martabat, akan dibela mati-matian.


Sangkan paraning dumadi

Sangkan : asal-usul; paran : tujuan; dadi : jadi, selesai; dadi mendapat seselan (sisipan) –um- , menjadi dumadi . Dumadi di sini berarti menjadi kehidupan, atau manusia. “Asal-usul dan tujuan manusia”. Pandangan masyarakat Jawa tentang asal-usul penciptaan manusia, dan tujuan akhir kehidupan.  


Sapa tekun golek teken, bakal tekan

Sapa : siapa; golek : mencari; teken : tongkat; tekan : sampai. “Siapa (yang) tekun mencari tongkat, akan sampai”. Artinya, barangsiapa rajin dan tekun mencari ilmu kehidupan, akan sampai ke tujuan akhir kehidupan.


Sawang sinawang

Sawang :1) rumah laba-laba; 2) melihat; mendapat sisipan -in- menjadi sinawang . “Melihat dan melihat”, atau “Saling melihat”. Setiap manusia, jika melihat orang lain, tentu dengan penafsirannya sendiri, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Orang yang kelihatannya berharta, tetapi sebetulnya tidak bahagia, dan sebalkiknya.


Sepi ing pamrih, rame ing gawe

Pamrih : keinginan (pribadi); gawe : kerja. “Sepi dalam keinginan (pribadi), tetapi sibuk bekerja”. Menunjukkan orang yang rajin bekerja, menjalankan tugas, tanpa memikirkan hasilnya.


Tuna sathak, bati sanak

Tuna : rugi; sathak : sedikit; bati : untung; sanak : saudara, kenalan. “Rugi sedikit, (tetapi) untung (mendapat) saudara”. Banyak pedagang Jawa tradisional yang tidak mementingkan keuntungan, yang dicari hanya persaudaraan.


Tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati

Tunggak : bekas tebangan pohon yang bersemi; jarak : nama pohon, biasa untuk pagar hidup; mrajak : cepat tumbuh; jati: pohon jati. “Bekas tebangan pohon jarak tumbuh cepat, bekas tebangan pohon jati mati”. Keturunan orang sederhana yang hidup sukses, sedang keturunan orang yang kaya, malah miskin”.

 

Urip mung mampir ngombe

Urip : hidup, kehidupan; mung : hanya; ngombe : minum. “Orang hidup, (sebenarnya hanya) singgah (untuk) minum”. Pandangan, bahwa orang hidup du alam fana, hanya sebentar, nantinya akan hidup di alam yang baka. 


 

Wed, 18 May 2011 @17:13


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 9+3+9

Copyright 2014 | Bambang Sudarmoyo All Rights Reserved